Pemberian Antibiotik Berlebihan Jadi Ancaman Serius
Rabu, 02 Sep 2015 10:33
Penggunaan antibiotik yang tidak rasional dan berlebihan ternyata selain berdampak pada tingginya biaya kesehatan, juga dapat menimbulkan masalah kesehatan yang serius.
Pemberian antibiotik yang tidak terkendali dengan baik, telah menyebabkan lahirnya bakteri "Super Bug" yang sangat sulit untuk diatasi. "Bakteri super" yang bersifat multi-resisten terhadap berbagai jenis antibiotik ini, telah menjadi ancaman serius dalam bidang kesehatan di seluruh dunia.
"Hanya dalam waktu sekitar 75 tahun sejak digunakannya antibiotik secara masal, kini dunia dihadapkan pada masa depan yang amat mengkhawatirkan, dimana kemungkinan tidak ada lagi antibiotik yang efektif untuk mengatasi beberapa tipe bakteri patogen yang multi-resisten," kata Guru Besar bidang Ilmu Farmasi UI Prof. Dr. Maksum Radji M.Biomed.,Apt
Ancaman pandemi bakteri yang resisten terhadap antibiotik kini telah nyata dan berskala besar. Maksum mengatakan kecepatan bakteri menjadi resisten terhadap antibiotik jauh lebih cepat, dibandingkan dengan upaya penemuan dan pengembangan antibiotik baru. Penemuan dan pengembangan antibiotik baru, memerlukan biaya yang sangat mahal sehingga dapat dibilang dalam 2-3 tahun terakhir ini tidak ada antibiotik baru yang diciptakan.
"Sejak tahun 2000-an, angka kematian penderita penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri multi-resisten terus meningkat dengan tajam, baik infeksi yang terjadi di rumah sakit maupun di komunitas," jelasnya.
Dewasa ini, beberapa laporan menyebutkan bahwa pada tahun 2050 diperkirakan 10 juta orang per tahun meninggal karena infeksi bakteri yang resisten terhadap antibiotik di seluruh dunia. Seperempat diantaranya terjadi di negara-negara berkembang. Prevalensi kematian tertinggi akibat infeksi bakteri multi-resisten terjadi di Asia sebanyak 4,7 juta, diikuti Afrika dengan 4,1 juta, sekitar 390 ribu di Eropa dan 317 ribu di Amerika.
"Penyumbang masalah resisistensi antibiotika adalah peresepan antibiotik tidak rasional, penjualan antibiotik tanpa resep dokter, pasien yang tidak menaati regimen penggunaan antibiotik, dan penggunaan obat pada ternak ayam dan ikan yang nantinya dikonsumsi oleh manusia," ungkap Maksum.
Maksum juga memaparkan peran sentral profesi farmasi sangat penting dalam mengendalikan penggunaan antibiotika yang bijak dan rasional. Upaya pengendalian penggunaan antibiotika yang dapat dilakukan apoteker adalah, dengan menghentikan penjualan antibiotik tanpa resep, memberi informasi yang tepat dan jelas pada pasien pada penyerahan antibiotik, pendidikan pada masyarakat tentang antibiotik yang bijak serta dampaknya pada kesehatan secara umum.
"Koordinasi dan kolaborasi antar profesi kesehatan pada unit pelayanan kesehatan dan rumah sakit sangat diperlukan guna meningkatkan kualitas hidup pasien," tutupnya.
Peringatan Hari Lahir Pancasila, 800 Warga Puncak Jaya Kirab Bendera 50 Meter
Puncak Jaya-Peringatan Hari Lahir Pancasila di Kabupaten Puncak Jaya, Provinsi Papua Tengah, diwarnai dengan aksi kolosal pembentangan bendera Merah Putih sepanjang 50 meter, Senin (1/6/2026). Aksi Ki
Hutan Adat Imbo Putui Suguhkan Keseimbangan Ekonomi dan Alam Berkelanjutan
Kampar-Hutan Adat Imbo Putui di Desa Petapahan, Kabupaten Kampar, kini hadir menjadi destinasi wisata alam pilihan berbasis konservasi unggulan di Provinsi Riau. Melalui Program Desa Wisata, kawasan y
Jelang Musim Kemarau, RAPP Dukung Upaya Pemkab Pelalawan Perkuat Pencegahan Karhutla .
PANGKALAN KERINCI-Menjelang musim kemarau tahun 2026, Pemerintah Kabupaten Pelalawan menggelar Apel Kesiapsiagaan Pencegahan dan Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di Lapangan Kantor
26 Tahun Dimakamkan, Jenazah Abu Zamroh Warga Inhu Riau Ditemukan Masih utuh Saat Pemindahan Makam
Saat sang ayah meninggal dunia, Miyos baru saja menyelesaikan pendidikan SMP dan berusia sekitar 15 tahun.Ia masih mengingat kondisi keluarga mereka saat itu yang hidup dalam kondisi susah.Rumah seder
Pasca Libur Idul Adha, Permohonan Paspor di Imigrasi Bengkalis Tetap Normal
BENGKALIS-Pelayanan keimigrasian di Kantor Imigrasi Kelas II TPI Bengkalis pasca libur bersama Idul Adha 1447 Hijriah/2026 Masehi terpantau berjalan normal tanpa adanya lonjakan signifikan, baik untuk