Mau Masa Depan Anak Sukses? Orangtua Perlu Ajarkan Hal Ini
Sabtu, 07 Sep 2019 09:44
Perubahan era yang terjadi karena kemajuan teknologi dan informasi membuat orangtua mau tidak mau harus mengubah pola asuh terhadap anak-anaknya. Sekarang ini, pola asuh harus mematuhi arahan orangtua guna anak sukses di masa depan sulit diterapkan.
Sebaliknya, orangtua diharapkan bisa mendorong buah hati memiliki nalar tinggi supaya bisa berinovasi. Tujuannya agar anak sukses di masa depan.
Menurut Laporan Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) 2018, sebanyak 65% anak yang saat ini duduk di bangku sekolah dasar, di masa depan mungkin bekerja di bidang yang hari ini belum ada. Hanya sekira 35% pekerjaan di era sekarang yang bisa ditemukan di masa depan. Oleh karenanya, anak dituntut untuk jadi pencipta kerja,

Pengamat dan Praktisi Pendidikan dan Sains, Indra Charismiadji mengatakan, satu hal yang sekarang perlu diperhatikan orangtua agar anak sukses adalah menjadikan mereka sosok kreatif, mampu berpikir kritis, bisa berkolaborasi dengan orang banyak, serta memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Maka dari itu, orangtua perlu mendapatkan banyak edukasi tentang hal tersebut.
Sebab pola asuh yang dahulu orangtua terima sulit diterapkan pada anak-anak di era sekarang.
"Di era manufaktur orang memang harus patuh sesuai aturan, saklek. Sedangkan sekarang ini harus ada dorongan kreativitas. Anak tidak lagi harus mematuhi perkataan orangtua, sebab anak yang patuh tidak memiliki kreativitas," ujar Indra saat ditemui Okezone dalam dalam diskusi bertajuk "Sains Digital Dari dan Untuk Anak Indonesia" yang diselenggarakan oleh Kalbe, Jumat 6 September 2019 di Jakarta.

Menjadi anak yang tidak patuh bukan berarti anak harus melawan perintah orangtua atau membangkang. Tidak patuh di sini maksudnya adalah anak diharuskan berpikir kritis. Ketika orangtua melarang sesuatu, mereka tidak serta merta menurut melainkan berpikir alasan kenapa tidak diperbolehkan melakukan hal tersebut.
"Contoh, ketika anak mau main api, jangan bilang enggak boleh. Terangkan kepadanya kalau main api bisa menyebabkan panas apabila terkena tangan, biar mereka merasakan sendiri. Jadi anak terbiasa tidak dibatasi tapi belajar sebab akibat sehingga bisa mendorong kreativitas," jelas Indra.
Selain dari pola asuh orangtua, pola pengajaran di institusi pendidikan juga perlu diubah. Sekarang ini muncul pola STEAM yaitu science, technology, engineering, art, and mathematic. Pola pengajaran ini mendorong anak untuk memiliki nalar yang baik. Sebab pola ini menciptakan adalah kemampuan manusia yang paling tinggi.

Melalui pola ini, anak juga mampu memiliki empat kemampuan yang diperlukan di masa depan yaitu berpikir kritis, berkolaborasi, berkomunikasi, dan kreatif. Kreativitas adalah bagian penting dalam inovasi. Dari inovasi itulah anak bisa bersaing di masa depan.
sumber:okezone.com
Lifestyle
Lagi Tren, Ini 5 Tips Membuat Hampers Lebaran yang Menarik dan Berkesan
JAKARTA - Menjelang Hari Raya Idul Fitri, tradisi berbagi hampers Lebaran semakin populer. Hampers sering dijadikan bentuk perhatian kepada keluarga, sahabat, hingga rekan kerja. Selain bisa dibe
Anak Tantrum akibat Pembatasan HP, Ini 4 Cara Menghadapinya
JAKARTA - Menghadapi anak yang sedang tantrum akibat pembatasan penggunaan handphone sering kali menjadi tantangan bagi banyak orangtua. Terdapat 4 cara agar hubungan tetap hangat dan anak merasa dipa
Viral Gadis 22 Tahun Dijodohkan dengan Pria 65 Tahun, Komentar Nitizen Jadi Sorotan
JAKARTA - Viral seorang gadis berusia 22 tahun dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria yang terpaut usia 43 tahun karena dinilai mapan dan berstatus juragan di kampung halamannya. Kisah ini pun menja
Mengenal Fenomena Fake Rich yang Viral di Media Sosial
JAKARTA - Fenomena fake rich belakangan ramai dibicarakan di media sosial. Istilah ini merujuk pada perilaku seseorang yang menampilkan gaya hidup mewah di internet meskipun kondisi keuangannya
Literasi Digital dan Peran Keluarga Dinilai Penting untuk Lindungi Anak di Ruang Digital
JAKARTA - Pemerintah berencana memberlakukan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Pelindungan Anak di Ruang Digital atau PP Tunas pada akhir Maret 2026. Regulasi ini dinilai sebagai langka