Senin, 29 Jun 2026
  • Home
  • Pendidikan
  • Perjuangan Petani Garam di Aceh Sekolahkan Anak hingga Sarjana

pendidikan

Perjuangan Petani Garam di Aceh Sekolahkan Anak hingga Sarjana

Sabtu, 31 Mar 2018 13:41
okezone.com
Foto: Khalis Surry/Okezone

Hari itu, cuaca begitu terik. Matahari tengah memuncak. Seorang pria yang mengenakan baju lengan panjang kombinasi warna putih dan biru sedang menapak menuju ke tengah padang. Keringat bercucuran membasahi seluruh wajah dan bajunya. Sesekali, kilauan terpacar dari wajahnya saat ia menghadap ke arah matahari.

Pria itu bernama Azhar. Umurnya telah menginjak 51 tahun. Bapak dari tiga anak-anaknya itu berporfesi sebagai petani garam tradisional yang beralamat di Desa Lamujong, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Ia bersama enam rekannya memiliki sembilan bedeng tempat produksi garam tradisional, dengan cara dijemur di bawah terik matahari. Saat cuaca terik, surga bagi mereka petani garam. Tak akan asin garam mereka ketika hujan turun.

Menjadi petani garam, telah digeluti Azhar sejak 20 tahun silam. Menghidupi kebutuhan keluarga, Azhar betumpu pada hasil garam yang dirinya produksi. Sebelum kelompoknya mendapatkan bantuan dari sembilan bedeng produksi garam itu dari pemerintah, Azhar telah lebih dulu mememiliki sebuah gubuk yang di dalamnya terdapat wajan terbuat dari besi untuk merebus garam. Hingga kini, gubuk itu masih berdiri kokoh, seumur dengan dirinya terjun menjadi petani garam. Meski demikian, satu, dua, kayu yang menempal di dinding gubuk itu telah melapuk.

''Ini (tempat produksi garam dengan cara direbus) milik saya pribadi. Kalau yang produksi garam dengan cara dijemur itu miliki kelompok, saya ketuanya,'' kata Azhar saat ditemui Okezone beberapa waktu lalu.

Kini, ada dua cara Azhar memproduksi garam, pertama dengan merebus, yang merupakan asetnya sendiri, dan kedua, dengan cara menjemur di bawah lengkungan bedeng, berkongsi dengan enam rekan petani garam lainnya.

Bahan baku dari pembuatan garam tersebut merupakan pasir yang telah dijemur di bawah terik matahari. Kemudian, Azhar mengangkut pasir itu dan memasukkan ke dalam wajan besar untuk direbus. Proses perebusan pun membutuhkan waktu selama tiga hingga empat jam, hingga pasir yang bercampur air itu menjadi garam. Dan, Azhar harus mengontrol api agar tetap membakar wajan tersebut. Setiap hari, Azahr dapat memproduksi garam tanpa kecuali.

Sedangkan, produksi garam kedua dilakukan dengan cara pasir bercambur air itu dijemur di bawah bedeng yang telah tertutupi kertas plastik bening. Sistem jemur, membutuhkan waktu sekira 15 hari lebih baru dapat memetik hasil panennya. Dalam sebulan, perkiraan Azhar, mereka bisa panen garam dari sembilan bedeng sebanyak dua kali. Jika hasil satu bedeng hasilnya mencapai satu ton, maka dua kali panen dalam sebulan mencapai 18 ton garam yang dihasilkan. Namun, dengan cara seperti ini garam bisa diproduksi ketika cuaca terik, jika hujan mereka libur.

''Sehari bisa dua kali masak (garam), hasilnya mencapai 60 kilogram. Kalau yang dijemur itu satu bedeng (hasil produksinya) antara 700 kilogram hingga satu ton garam,'' ungkap Azhar.

Kini, Azhar menjual garam tradisional hasil produksinya itu dengan harga antara Rp7 ribu hingga Rp8 ribu per kilogramnya. Ia berkisah, sejak 20 tahun yang lalu harga garam dapat dibandrol dengan harga hanya Rp3 ribu per kilogram. Sebab itu, menurutnya, mungkin itu salah satu dari sekian banyak penyebab atas banyaknya petani garam yang banting stir dan beralih mencari pekerjaan lain.

"Mungkin mereka yang sudah meninggalkan pekerjaan ini lantaran faktor capek. Apa lagi kalau anak muda, mana mau mereka kerja di bawah terik matahari nanti pasti hitam. Tapi kalau harga rendah mungkin tidak sesuai dengan pekerjaan, tapi kalau harga sekarang hingga (rupiah) 8 ribu jadi kita senang,'' ujarnya.

Pendidikan
Berita Terkait
  • Senin, 29 Jun 2026 15:30

    Bahlil: RI Butuh 4 Juta KL Etanol Buat Program E20

    JAKARTA - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memetakan soal kebutuhan etanol untuk menghadirkan BBM E20 tembus 4 juta kilo liter per tahun. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (

  • Senin, 29 Jun 2026 15:24

    Seskab Teddy Sebut 30 Persen Peserta Magang Nasional 2025 Langsung Diterima Kerja

    JAKARTA - Sekretaris Kabinet (Seskab), Teddy Indra Wijaya mengungkapkan sebanyak 30 persen peserta Program Magang Nasional 2025 langsung diterima bekerja setelah menyelesaikan masa magang selama enam

  • Senin, 29 Jun 2026 15:18

    Prabowo Beberkan Kunci Negara Maju: Berani Akui Kekurangan dan Fokus Cari Solusi

    Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa keberhasilan sebuah negara bukan ditentukan oleh kemampuannya menghindari persoalan, melainkan oleh keberaniannya menghadapi dan menyelesa

  • Senin, 29 Jun 2026 15:15

    Jumlah Korban PHK Capai 43 Ribu Orang, Sektor Ini Paling Banyak Terdampak

    Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker) menginformasikan bahwa hingga bulan Juni 2026, terdapat sekitar 43 ribu pekerja formal yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Anwar Sanusi, Kepala Badan

  • Senin, 29 Jun 2026 15:11

    Usai Alami Trading Halt, IHSG Cetak Rekor Baru 24 Kali

    Pasar modal Indonesia berhasil bangkit kembali sepanjang tahun 2025. Setelah mengalami tekanan yang cukup hebat dan memaksa Bursa Efek Indonesia (BEI) memberlakukan trading halt, kondisi pasar mulai p

  • komentar Pembaca

    Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.