- Home
- Pendidikan
- Perjuangan Petani Garam di Aceh Sekolahkan Anak hingga Sarjana
pendidikan
Perjuangan Petani Garam di Aceh Sekolahkan Anak hingga Sarjana
Sabtu, 31 Mar 2018 13:41
Hari itu, cuaca begitu terik. Matahari tengah memuncak. Seorang pria yang mengenakan baju lengan panjang kombinasi warna putih dan biru sedang menapak menuju ke tengah padang. Keringat bercucuran membasahi seluruh wajah dan bajunya. Sesekali, kilauan terpacar dari wajahnya saat ia menghadap ke arah matahari.
Pria itu bernama Azhar. Umurnya telah menginjak 51 tahun. Bapak dari tiga anak-anaknya itu berporfesi sebagai petani garam tradisional yang beralamat di Desa Lamujong, Kecamatan Baitussalam, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. Ia bersama enam rekannya memiliki sembilan bedeng tempat produksi garam tradisional, dengan cara dijemur di bawah terik matahari. Saat cuaca terik, surga bagi mereka petani garam. Tak akan asin garam mereka ketika hujan turun.
Menjadi petani garam, telah digeluti Azhar sejak 20 tahun silam. Menghidupi kebutuhan keluarga, Azhar betumpu pada hasil garam yang dirinya produksi. Sebelum kelompoknya mendapatkan bantuan dari sembilan bedeng produksi garam itu dari pemerintah, Azhar telah lebih dulu mememiliki sebuah gubuk yang di dalamnya terdapat wajan terbuat dari besi untuk merebus garam. Hingga kini, gubuk itu masih berdiri kokoh, seumur dengan dirinya terjun menjadi petani garam. Meski demikian, satu, dua, kayu yang menempal di dinding gubuk itu telah melapuk.
''Ini (tempat produksi garam dengan cara direbus) milik saya pribadi. Kalau yang produksi garam dengan cara dijemur itu miliki kelompok, saya ketuanya,'' kata Azhar saat ditemui Okezone beberapa waktu lalu.
Kini, ada dua cara Azhar memproduksi garam, pertama dengan merebus, yang merupakan asetnya sendiri, dan kedua, dengan cara menjemur di bawah lengkungan bedeng, berkongsi dengan enam rekan petani garam lainnya.
Bahan baku dari pembuatan garam tersebut merupakan pasir yang telah dijemur di bawah terik matahari. Kemudian, Azhar mengangkut pasir itu dan memasukkan ke dalam wajan besar untuk direbus. Proses perebusan pun membutuhkan waktu selama tiga hingga empat jam, hingga pasir yang bercampur air itu menjadi garam. Dan, Azhar harus mengontrol api agar tetap membakar wajan tersebut. Setiap hari, Azahr dapat memproduksi garam tanpa kecuali.
Sedangkan, produksi garam kedua dilakukan dengan cara pasir bercambur air itu dijemur di bawah bedeng yang telah tertutupi kertas plastik bening. Sistem jemur, membutuhkan waktu sekira 15 hari lebih baru dapat memetik hasil panennya. Dalam sebulan, perkiraan Azhar, mereka bisa panen garam dari sembilan bedeng sebanyak dua kali. Jika hasil satu bedeng hasilnya mencapai satu ton, maka dua kali panen dalam sebulan mencapai 18 ton garam yang dihasilkan. Namun, dengan cara seperti ini garam bisa diproduksi ketika cuaca terik, jika hujan mereka libur.
''Sehari bisa dua kali masak (garam), hasilnya mencapai 60 kilogram. Kalau yang dijemur itu satu bedeng (hasil produksinya) antara 700 kilogram hingga satu ton garam,'' ungkap Azhar.
Kini, Azhar menjual garam tradisional hasil produksinya itu dengan harga antara Rp7 ribu hingga Rp8 ribu per kilogramnya. Ia berkisah, sejak 20 tahun yang lalu harga garam dapat dibandrol dengan harga hanya Rp3 ribu per kilogram. Sebab itu, menurutnya, mungkin itu salah satu dari sekian banyak penyebab atas banyaknya petani garam yang banting stir dan beralih mencari pekerjaan lain.
"Mungkin mereka yang sudah meninggalkan pekerjaan ini lantaran faktor capek. Apa lagi kalau anak muda, mana mau mereka kerja di bawah terik matahari nanti pasti hitam. Tapi kalau harga rendah mungkin tidak sesuai dengan pekerjaan, tapi kalau harga sekarang hingga (rupiah) 8 ribu jadi kita senang,'' ujarnya.
Seorang Kurir Narkoba Ditangkap, Sabu 21,1 Kg Berhasil Disita
Siak-Lagi-lagi kurir narkoba yang menjadi sasaran penangkapan oleh Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri yang berhasil menggagalkan sabu seberat 21,1 kilogram di wilayah P
23 Kasus Hantavirus Terdeteksi di Indonesia, Ini Gejala yang Dirasakan
Pemerintah mencatat sebanyak 23 kasus Hantavirus jenis Seoul Virus ditemukan di Indonesia dalam tiga tahun terakhir. Seluruh pasien mengalami gejala Haemorrhagic Fever With Renal Syndrome (HFRS), sala
PLN UP3 Tanjungpinang Salurkan Bantuan Napkah Dhuafa kepada 4 Lansia
BENGKALIS - Penyaluran bantuan Program Napkah jaminan bahan pokok untuk para dhuafa diserahkan Asisten Manager Keuangan dan Umum Deni Irawan, Amil YBM PLN UP3 Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau (K
Diduga Terjatuh Bersama Motor, Pria 36 Tahun Ditemukan Tewas di Sungai Piamban
KAMPAR KIRI HILIRâ€"Seorang pria bernama Jefri (36), warga Kelurahan Sungai Pagar, Kecamatan Kampar Kiri Hilir, Kabupaten Kampar ditemukan meninggal dunia di Sungai Piamban, Jumat (8/5/2026) sore.&nbs
Tentara Israel Paksa Keluarga Palestina Bongkar Makam Anak Mereka karena Dekat Permukiman Zionis
Tentara Israel dilaporkan memaksa sebuah keluarga Palestina membongkar kembali makam putra mereka dan memindahkan jenazahnya di wilayah Jenin, Jumat malam. Laporan tersebut disampaikan kantor berita r