Travel
Melihat Lebih dekat Lokasi Nabi Muhammad Dilahirkan, Sangat Sederhana dan Penuh Makna
Selasa, 20 Nov 2018 10:52
MENGINJAKKAN kaki di tanah suci menjadi impian banyak Muslim di dunia. Berada di sana layaknya memenuhi kewajiban seorang Muslim di dunia.
Banyak lokasi suci yang kemudian diagungkan umat. Sebut saja Ka'bah yang mana ini merupakan lokasi paling suci di dunia ini. Selain itu ada juga beberapa masjid besar yang sejarah di baliknya patut dipelajari dan direnungkan oleh umat Islam.
Selain itu, ada satu bangunan dekat dari Msjidil Haram yang juga cukup penting dalam sejarah Islam di dunia ini. Bangunan tersebut tidak begitu besar dan sangat sederhana. Bangunan bercat kuning pucat itu terletak 200 meter dari Masjidil Haram.
Adalah rumah di mana Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Banyak orang menyebutnya sebagai Rumah Maulid. Bangunan berukuran 10x18 meter tersebut dipercaya banyak sumber adalah rumah kakeknya Nabi yang bernama Abdul Muthalib.
Kini, bangunan tersebut sudah beralihfungsi menjadi perpustakaan. Ada alasan khusus kenapa akhirnya tempat bersejarah tersebut diubah fungsinya.
Terkait pengubahan fungsi bangunan, dijelaskan Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul 'Haji dan Umrah Bersama M. Quraish Shihab', Nabi Muhammad SAW memberikan rumah tempat kelahirannya tersebut kepada Aqil, putra pamannya Abu Thalib. Rumah itu kemudian beralih kepemilikannya kepada Muhammad bin Yusuf Atstsaqafi.
"Tiba suatu waktu penguasa meruntuhkannya karena khawatir disakralkan," tulis Quraish Shihab. Sejak itu rumah Nabi terbengkalai selama sekian lama sebelum akhirnya Arab Saudi menjadikan lokasi rumah kelahiran Nabi sebagai perpustakaan pada 1370 H hingga saat ini.
Dalam riwayat lain, tempat kelahiran Nabi dikisahkan dulunya dikenal dengan sebutan lembah Abu Thalib. Aqil bin Abi Thalib menempati rumah tersebut ketika Nabi berhijrah ke Madinah. Keturunan Aqil yang selanjutnya menempati rumah itu sebelum akhirnya dibeli oleh Khizran.
Dalam perkembangannya, di lokasi tersebut sempat dibangun sebuah masjid oleh Al-Khaizuran, ibu dari Khalifah Harun al-Rasyid, khalifah kelima Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad. Namun, bangunan itu kemudian dihancurkan dan dijadikan perpustakaan oleh Syekh Abbas Ottoman (1370 H/1950 M).
Kini, kaum Muslimin dengan mudah mengenali tempat itu karena di atasnya tertulis Maktabah Makkah al-Mukarramah yang berarti perpustakaan Makkah al-Mukarramah.
Lalu, apa saja yang ada di dalam bangunan tersebut?
Beberapa sumber menjelaskan bahwa selain buku-buku, di bagian sebelah kiri bangunan itu digunakan sebagai gudang untuk menyimpan barang-barang yang tak terpakai. Sementara pada bagian kanan, langsung berhadapan dengan tempat pengambilan air Zamzam.
Bagian belakangnya berbatasan dengan jalanan yang biasa dilalui baik oleh masyarakat maupun jamaah haji (dan umrah) yang ingin melaksanakan ibadah ke Masjid al-Haram.
Semoga bangunan ini bisa jadi pengingat juga sebagai pembelajaran bagi kita semua untuk tetap menghargai sejarah dan lebih mencintai Nabi Muhammad SAW.
(okezone.com)
Traveler
Kejati Riau dan Bea Cukai Perkuat Sinergi Penegakan Hukum Kepabeanan
PEKANBARU -Kejaksaan Tinggi (Kejati) Riau memperkuat sinergi dengan Direktorat Jenderal Bea dan Cukai melalui pertemuan silaturahmi yang digelar di ruang kerja Kepala Kejati Riau, Senin (22/6/2026).Pe
Seorang Kader Masuk Rumah Sakit Usai Demo di DPRD Riau, IMM Kecam Tindakan Represif Aparat
PEKANBARU-Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) Riau mengecam keras tindakan represif dan kekerasan berlebihan yang dilakukan oleh aparat kepolisian saat pengamanan aksi demons
Pengamat Unri Nilai Pemprov Riau Perlu Lebih Kreatif Menggali Sumber PAD
PEKANBARU â€" Pengamat Ekonomi Universitas Riau, Dahlan Tampubolon, menilai Pemerintah Provinsi Riau masih memiliki banyak ruang untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) melalui optimalisasi as
Gandeng Tempo Media, Pemprov Riau Siap Pamerkan Potensi Daerah ke Tingkat Nasional
PEKANBARU - Pemerintah Provinsi Riau terus berupaya agar berbagai potensi daerah bisa dikenal lebih luas di panggung nasional. Langkah strategis ini diwujudkan lewat penguatan kolaborasi penyebaran in
Skincare yang Harus Dihindari Perempuan di Usia 40 Tahunan
JAKARTA - Memasuki usia 40 tahun, kondisi kulit biasanya mulai mengalami berbagai perubahan. Produksi kolagen berkurang, kelembapan alami kulit menurun, serta garis halus dan kerutan semakin terlihat.