Sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
Hanya mata air air matamu ibu, yang tetap lancar mengalir.
Bila aku merantau
Sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
Di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan.
Lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar, sangat cocok disandingkan sebagai gambaran bakti, Andi Pemilik Pondok Bika dan Kawa Daun Tapi Talago yang saat ini sedang viral di Sumatera Barat.
Tersebab bakti pada Ibunda tercintanya yang saat ini telah berusia 90 tahun lebih itulah, Andi lelaki paruh baya yang sudah mapan di tanah Jawa dengan pekerjaannya di perusahaan kontruksi mobil tersebut memilih pulang kampung lalu memulai usaha kecil-kecilan dengan membuka Pondok Bika dan Kawa Daun yang terletak di Jalan Raya Padang Bukittinggi km 10, Kenagarian Koto Baru, Kecamatan, Kec. Sepuluh Koto, Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat
Kepada kru Spirit Riau, yang mengunjungi lapak usahanya dalam tour the Sumatera, baru-baru ini anak tertua dari empat bersaudara itu mencerikan kisah usaha yang dirintisnya.
Awalnya tapak usahanya yang tengah viral-viralnya tak hanya di Sumatera Barat, tapi juga Sumatera bahkan Indonesia itu adalah tanah keluarga yang tak produktif dan disewakan kepada pihak ketiga alakadarnya saja.
"Setiap pulang kampung dan rindu ibu, saya selalu melihat peluang apa yang bisa diciptakan di kampung halaman tercinta ini, usaha warga yang banyak di sini ya menjual bika," ujarnya.
Disebabkan hanya usaha kue bikalah yang terbanyak di kampungnya tersebut, demi bisa lebih sering mendampingi Ibunya yang sudah tua dan sakit-sakitan, ia pun akhirnya mesti mengikuti arus angin tersebut, sembari tak berhenti untuk memutar otak apa yang semestinya dilakukan selain menjual bika.
Di awal tahun 2018 mulailah dirinya mengolah tanah milik orang tuanya tersebut, menjual bika dengan cara trasional dan menggungu pembeli dan bolak balik Sumbar-Bandung melihat "Amak" di kampung dan anak-istri di Bandung.
Di awal tahun 2019 muncullah ide untuk menyandingkan usaha menjual bika dengan minunan kawa, sejenis minunam hangat berasal dari daun kopi yang diseduh seperti teh yang berasal daun kopi lokal pilihan awalnya dikeringkan dengancara disangai (didiang) selama 12 jam.
Saat akan diminum, daun kering ini dicampur dengan air dingin, lalu diseduh dengan air mendidih, sehingga rasanya sangat makyoos.
Tahun 2019-2020 usaha Andi ini tetap hanya seperti usaha sejenis, pembeli datang dan pergi dan enggan singgah kembali apalagi duduk berlama-lama.
Kemudian di awal 2021 muncullah kembali idenya untuk mempercantik lapak usaha dan meninggikan lantai pondok serta membuat bangku layaknya taman kota, sehingga mulai banyak pengunjung yang mulai singgah, duduk berlama-lama dan berswafoto di lapak usahanya dengan latar pemandangan Talago Koto Baru yang terletak di bibir Gunung Merapi dan dan Singgalang itu.
Kue yang memiliki bahan dasar tepung beras dan kelapa ini, memiliki cita rasa asam manis di setiap gigitannya, karena diolah dengan cara dibakar atau dipanggang, berbeda dengan kue bika lainnya yang biasanya di kukus, Bika Medan atau Bika Ambon misalnya.
Di awal 2021 mulai ya sedikit merangkaknya, awalnya cuma hanya menghabiskan berapa kilo tepung dan 10 kelapa saja dalam sehari untuk pembuatan dan penjulan bila, kalau saat ini alhamdulillah sudah ratusan," ujarnya.
Dia percaya, lancarnya usaha yang sedang dirintisnya saat ini bisa berkembang berkat doa "Amak" karena dia awalnya membuka usaha di kampung halaman adalah berjuan agar bisa lebih sering dan lebih lama melihat amaknya.
Seiring viral usahanya saat ini di masa datang, Andi masih menciptakan aneka panganan lain dan objek-objek swafhoto untuk pengunjung di tempat usahanya tersebut.
Rencana terdekat yang ingin di buatnya di waktu dekat ini adalah mempelebar ruangan ke arah talago dan membuat sebuah bangunan yang mencirikan rumah adat Minangkabau untuk tamu-tamu, biasa maupun privasi.
Seperti, kita sedang berada di Pelana atau Kawah Merapi dan Singgalang saat kita barada kawasan ini, ujar dokter Rahmi seorang pengunjung yang berasal dari Riau.
Menurutnya, yang sering membeli Bika di Koto Baru ini, Bika khas Sumbar yang berada di Pondok Bika dan Kawa Tapi Talago ini lebih nikmatnya lagi, karena kita menyantapnya saat masih hangat, dan ditemani dengan Kawa Daun yang juga hangat.
Saat kita menggigit kue bika ini, akan terasa keras dan berkerak bagian luarnya karena dibakar dan kelembutan pada bagian dalamnya. (wan)