Jumat, 31 Jul 2026
- Home
- Internasional
- AS Tunjukkan Kekuatan Drone Laut, Kapal Perang China Jadi Sorotan
Internasional,
AS Tunjukkan Kekuatan Drone Laut, Kapal Perang China Jadi Sorotan
PT.SPIRIT INTI MEDIA
Jumat, 31 Jul 2026 16:16
Sebuah kapal permukaan nirawak (Unmanned Surface Vehicle/USV) berukuran kecil milik perusahaan teknologi maritim asal California, Seasats, berhasil mendekati kapal perusak rudal berpemandu Angkatan Laut China (PLAN) di perairan strategis dekat Filipina.
Peristiwa itu menjadi sinyal terbaru bahwa kendaraan laut tanpa awak kini mulai mengubah lanskap persaingan militer di Indo-Pasifik sekaligus memunculkan tantangan baru bagi keamanan maritim global.
Insiden tersebut terjadi di Selat Luzon, sekitar 73 mil laut di timur laut Pulau Luzon, Filipina. Wilayah itu merupakan salah satu jalur pelayaran paling strategis di dunia karena menghubungkan Samudra Pasifik dengan Laut China Selatan serta berada di antara Taiwan dan Filipina. Kawasan ini selama bertahun-tahun dipandang sebagai salah satu titik paling rawan apabila konflik bersenjata di Selat Taiwan benar-benar pecah.
Menurut keterangan CEO Seasats Mike Flanigan, USV bernama Lightfish mendeteksi kapal perang China menggunakan radar dari jarak sekitar 10 mil laut, kemudian mendekat hingga hanya beberapa ratus meter sambil merekam video kapal perusak rudal berpemandu Tipe 052D tersebut. Kapal perang China diketahui menyadari kehadiran USV itu dan melakukan manuver untuk mengubah haluan sebelum kedua pihak berpisah tanpa insiden lebih lanjut.
Peristiwa yang terjadi pada 15 Juni tersebut pertama kali dilaporkan Reuters dan kemudian diungkap lebih rinci oleh Seasats. Meski tidak terjadi konfrontasi, insiden itu memperlihatkan bagaimana kapal nirawak sipil kini mampu beroperasi sangat dekat dengan salah satu kapal kombatan paling modern milik China.
Kejadian tersebut sekaligus memperlihatkan dilema baru yang dihadapi angkatan laut berbagai negara. Berbeda dengan kapal berawak, USV tidak membawa awak manusia sehingga sulit diketahui secara langsung tujuan, kepemilikan, maupun tingkat ancaman yang dibawanya. Dalam situasi krisis, keputusan untuk menembak atau membiarkan kapal nirawak mendekat dapat menjadi persoalan strategis yang berpotensi memicu eskalasi konflik.
Lightfish sendiri bukan dirancang sebagai kapal serang. USV sepanjang sekitar 3,6 meter dengan bobot sekitar 138 kilogram itu mengutamakan daya jelajah sangat jauh melalui kombinasi panel surya dan sistem propulsi hibrida. Menurut Seasats, kapal tersebut mampu beroperasi hingga enam bulan di laut dengan jangkauan lebih dari 8.000 mil laut tanpa perlu kembali ke pangkalan.
Namun, kemampuan Lightfish mendekati kapal perang mengingatkan banyak pihak pada keberhasilan Ukraina memanfaatkan USV bersenjata dalam perang Laut Hitam. Sejak 2023, kapal-kapal drone Ukraina berulang kali menyerang Armada Laut Hitam Rusia sehingga memaksa Moskow memindahkan sebagian besar armada utamanya dari Krimea ke pangkalan yang dinilai lebih aman. Perkembangan tersebut mengubah cara banyak negara memandang efektivitas kapal nirawak dalam peperangan modern, sebagaimana diberitakan The War Zone beberapa waktu lalu.
Sebelum Ukraina, kelompok Houthi di Yaman juga telah menggunakan USV bermuatan bahan peledak untuk menyerang kapal di Laut Merah. Teknologi serupa kemudian terus berkembang dan kini menjadi perhatian hampir seluruh angkatan laut besar dunia, termasuk Amerika Serikat yang mulai mengintegrasikan kapal drone bersenjata dalam berbagai operasi dan latihan tempur.
Baru-baru ini, Angkatan Laut Amerika Serikat mengerahkan kapal drone Corsair buatan Saronic dalam operasi ofensif di kawasan Teluk Persia. Sementara itu, dalam latihan multinasional RIMPAC 2026, kapal drone kamikaze Global Autonomous Reconnaissance Craft (GARC) turut digunakan dalam latihan penenggelaman kapal bekas USS Peleliu. Langkah tersebut menunjukkan bahwa kapal permukaan nirawak kini mulai menjadi bagian penting dari doktrin tempur Angkatan Laut AS.
Flanigan menilai pengalaman Ukraina telah membuktikan bahwa kapal permukaan nirawak berukuran kecil mampu menghadirkan ancaman nyata terhadap kapal perang bernilai tinggi.
"Ukraina telah membuktikan secara pasti ancaman yang ditimbulkan USV kecil terhadap kapal permukaan. Dengan jangkauan Lightfish, kami menunjukkan bahwa hampir seluruh lautan kini berada dalam jangkauan kapal nirawak kecil," ujarnya.
Menurut Seasats, pertemuan dengan kapal perusak Tipe 052D bukan kali pertama terjadi. Pada Mei lalu, Lightfish juga sempat berpapasan dengan korvet Tipe 056 milik Angkatan Laut China saat melintasi Selat Taiwan. Perusahaan itu menyebut dokumentasi visual terhadap aktivitas kapal perang China di kawasan menjadi bukti penting mengenai meningkatnya kehadiran PLAN di wilayah perairan sekitar Taiwan dan negara-negara tetangganya.
Di sisi lain, semakin banyaknya USV yang beroperasi di laut internasional juga memunculkan persoalan hukum dan aturan keterlibatan (rules of engagement). Flanigan menilai sistem nirawak seharusnya selalu mengutamakan keselamatan kapal berawak serta mematuhi International Regulations for Preventing Collisions at Sea (COLREGs). Namun, dalam praktiknya, identitas sebuah kapal drone sulit diverifikasi sehingga kapal perang maupun kapal dagang dapat menghadapi dilema ketika berhadapan dengan objek nirawak yang bergerak mendekat tanpa komunikasi yang jelas.
Perkembangan itu menunjukkan bahwa revolusi teknologi laut tidak lagi hanya ditentukan oleh kapal perang berukuran besar dan rudal jarak jauh. Kapal permukaan nirawak berukuran kecil kini mulai menjadi elemen penting dalam persaingan militer, pengawasan maritim, hingga peperangan masa depan. Insiden Lightfish di Selat Luzon menjadi salah satu gambaran paling nyata bagaimana teknologi sipil dan militer semakin bertemu di kawasan yang merupakan salah satu titik paling sensitif dalam rivalitas strategis antara Amerika Serikat dan China.
Titik Paling Rawan Konflik AS-China
Di antara sekian banyak jalur laut di Asia Timur, Selat Luzon menempati posisi yang sangat strategis dalam perhitungan militer Amerika Serikat dan China. Selat yang membentang di antara Pulau Luzon, Filipina, dan Taiwan ini menjadi pintu gerbang utama yang menghubungkan Laut China Selatan dengan Samudra Pasifik.
Bagi kapal perang maupun kapal selam, jalur tersebut merupakan koridor vital untuk berpindah dari perairan yang relatif tertutup menuju lautan lepas. Karena itulah, hampir setiap peningkatan ketegangan di kawasan Indo-Pasifik selalu menjadikan Selat Luzon sebagai salah satu titik perhatian utama.
Dari perspektif Beijing, Selat Luzon merupakan salah satu jalur keluar strategis bagi Angkatan Laut Tentara Pembebasan Rakyat (PLA Navy/PLAN) menuju Samudra Pasifik. Selama ini, aktivitas armada China di Laut China Selatan relatif mudah dipantau karena wilayah tersebut dikelilingi negara-negara yang menjadi sekutu atau mitra keamanan Amerika Serikat.
Agar dapat memperluas jangkauan operasi ke Pasifik Barat, kapal-kapal perang China harus melewati sejumlah celah strategis (strategic chokepoints), salah satunya Selat Luzon. Sebaliknya, bagi Amerika Serikat, penguasaan informasi dan kehadiran militer di kawasan tersebut menjadi elemen penting dalam strategi menjaga kebebasan navigasi sekaligus mengawasi pergerakan armada China.
Nilai strategis Selat Luzon semakin meningkat karena letaknya sangat dekat dengan Taiwan, pulau yang selama beberapa dekade menjadi sumber utama rivalitas Beijing dan Washington.
Dalam berbagai simulasi perang yang dilakukan lembaga-lembaga pertahanan internasional, Selat Luzon diperkirakan akan menjadi salah satu jalur logistik, pengiriman bala bantuan, hingga medan operasi kapal perang, kapal selam, pesawat patroli maritim, dan kendaraan nirawak apabila konflik di Selat Taiwan benar-benar pecah. Posisi geografis tersebut membuat kawasan ini hampir tidak pernah sepi dari aktivitas militer berbagai negara.
Selain menjadi lintasan kapal perang, Selat Luzon juga merupakan salah satu jalur pelayaran komersial tersibuk di dunia. Ribuan kapal dagang melintas setiap tahun membawa energi, bahan baku industri, hingga berbagai komoditas ekspor-impor dari Asia Timur menuju Amerika Utara maupun sebaliknya.
Gangguan terhadap keamanan di kawasan ini bukan hanya berimplikasi pada sektor pertahanan, tetapi juga dapat mengganggu rantai pasok global, menaikkan biaya logistik, dan memengaruhi stabilitas perdagangan internasional.
Tidak mengherankan apabila kawasan ini kini menjadi arena pengujian berbagai teknologi militer generasi baru. Kapal permukaan nirawak (USV), kendaraan bawah laut otonom, pesawat nirawak, satelit pengintai, hingga sistem kecerdasan buatan mulai beroperasi di wilayah tersebut untuk mengumpulkan data, melakukan pengawasan, maupun menguji konsep peperangan masa depan.
Insiden ketika USV Lightfish milik Seasats berhasil mendekati kapal perusak rudal berpemandu Tipe 052D China menjadi gambaran bahwa persaingan di Selat Luzon tidak lagi hanya melibatkan kapal perang konvensional, tetapi juga teknologi otonom yang semakin sulit dideteksi dan diprediksi.
Dengan demikian, Selat Luzon bukan sekadar jalur laut yang menghubungkan dua perairan besar. Kawasan ini telah berkembang menjadi salah satu titik tumpu keseimbangan kekuatan di Indo-Pasifik.
Siapa pun yang mampu memantau, menguasai, atau mempertahankan akses di selat tersebut akan memiliki keuntungan strategis dalam setiap skenario konflik di kawasan. Karena itulah, setiap aktivitas militer, sekecil apa pun, di Selat Luzon hampir selalu menjadi perhatian serius komunitas pertahanan internasional.(ckplh)
Sumber: https://www.cakaplah.com/berita/baca/138634/2026/07/31/as-tunjukkan-kekuatan-drone-laut-kapal-perang-china-jadi-sorotan/#sthash.nIm76O6z.dpbs
komentar Pembaca