Minggu, 10 Mei 2026
  • Home
  • Internasional
  • Perbatasan Rafah Ditutup, Dokter Amerika Terjebak di Rumah Sakit Gaza

Internasional,

Perbatasan Rafah Ditutup, Dokter Amerika Terjebak di Rumah Sakit Gaza

PT.SPIRIT INTI MEDIA
Sabtu, 18 Mei 2024 17:23
okezone.com

MENINGKATNYA konflik di Gaza selatan telah menjebak tim dokter internasional, termasuk sekitar 20 orang Amerika di sebuah rumah sakit dekat kota Rafah. Konflik ini semakin membahayakan kondisi para pekerja bantuan dan sejumlah pasien Palestina yang terluka parah.

Menurut laporan dari The Washington Post yang dilansir pada Sabtu (18/5/2024), para pekerja medis tersebut dijadwalkan meninggalkan Gaza pada Senin setelah rotasi selama dua minggu di Rumah Sakit Eropa di Khan Younis, sebuah daerah dekat Rafah. Para dokter di sana mengatakan mereka tidak lagi yakin kapan mereka bisa pergi atau bisa bisa mencapai perbatasan Mesir dengan aman.

Hal ini disebabkan karena Israel telah mengambil kendali dengan menutup penyebrangan Rafah, yang menjadi andalan organisasi bantuan pada 7 Mei lalu. Seorang anggota staf PBB yang berpergian ke Rumah Sakit Eropa tewas pada Senin ketika kendaraan mereka yang bertanda bendera PBB diserang.

Selanjutnya, juru bicara Departemen Luar Negeri, Vedant Patel mengatakan bahwa para pejabat AS mengetahui laporan tentang staf medis Amerika yang terjebak di Gaza dan sedang bekerja sama dengan pemerintah Israel dan Mesir mengenai masalah ini. Penyitaan Israel atas perbatasan Rafah pekan lalu memutus jalur pasokan penting bagi organisasi yang bekerja untuk memberikan bantuan kemanusiaan di Gaza.

Relawan medis internasional yang bekerja di rumah sakit Gaza mengatakan mereka mengandalkan penyebrangan untuk masuk dan keluar dari zona konflik. Selain itu, pemboman yang dilakukan Israel juga telah memutus akses ambulans ke beberapa wilayah.

Pengungsi medis terdampar di berbatasan Rafah dan tidak dapat memperoleh bantuan di Mesir. Mahmoud Sabha, seorang dokter berbasis di Dallas yang ikut dalam tim tersebut mengklaim bahwa Johnston dan rekan-rekannya memasuki Gaza pada 1 Mei dengan membawa delapan koper untuk mengangkut pasokan medis tambahan ke Rumah Sakit Eropa.

Sebuah organisasi nirlaba yang bekerja dengan personel medis memperkirakan terdapat tiga lusin pekerja bantuan asing di Rumah Sakit Eropa, termasuk 20 warga negara dan Staf dari Yordania, Mesir, Oman, Inggris, dan Australia. Asosiasi Medis Amerika Palestina mengumumkan bahwa 19 pekerja layanan kesehatannya, termasuk 10 warga negara AS berada di antara sukarelawan yang terdampar di rumah sakit tersebut.

Johnston mengklaim pasien datang setiap hari dengan luka bakar parah dan luka akibat ledakan. Banyak yang meninggal karena luka yang masih bisa disembuhkan karena dokter tidak memiliki persediaan atau obat untuk menjaga mereka tetap bersih dan mencegah infeksi.

Mohamad Abdelfattah, dokter lain dalam tim yang berasal dari California mengatakan ribuan orang mengungsi di rumah sakit, sehingga sulit untuk membendung penyebaran penyakit. Namun, tim dokter telah bekerja semaksimal mungkin di tengah meningkatnya kelelahan dalam kondisi bencana tersebut.

Selain itu, hampir seluruh tim dokter juga terserang virus dan menderita dehidrasi selama rotasi dua minggu. Bahkan, dia merawat pasien sambil terhubung dengan infusnya sendiri. Johnston semakin khawatir atas serangan mematikan terhadap konvoi PBB yang terjadi pada Senin mengenai janji apa pun yang diberikan kepada mereka tentang perjalanan yang aman.

Selanjutnya, Asosiasi Medis Amerika Palestina sedang berkordinasi dengan Organisasi Kesehatan Dunia dan kantor PBB untuk memulangkan timnya. Selain itu, mereka juga mendesak pemerintah Amerika untuk membantu anggota tim Amerika.

Berdasarkan laporan, Departemen Luar Negeri mengatakan kepada beberapa kerabat mereka yang terjebak bahwa upaya penyelamatan sedang dilakukan. Namun, Samaiya Mushtaq, istri Sabha yang tinggal di Dallas mengatakan bahwa dia belum dihubungi oleh Departemen Luar Negeri.

Sumber: okezone.com

komentar Pembaca

Copyright © 2012 - 2026 www.spiritriau.com. All Rights Reserved.