Afriyanto S
Yousri Nur Raja Agam (pakai baju batik) dan sepeda hadiah dari Presiden Jokowi poto bersama beberapa awak media usai acara HPN.
PADANG- Pada Puncak Hari Pers (HPN) Nasional yang diselenggarakan di Danau Cimpago, Padang, Sumatera Barat Jumat 9/2, Presiden Jokowi menunjuk wartawan menggantikan dirinya sebagai Presiden.
Alasan Jokowi menunjuk wartawan sebagai Presiden berdasarkan pengalaman beliau sering di buru wartawan hendak kemana beliau melaksanakan tugas.
"Saya sering dicegat oleh wartawan, ada sekitar 80 hingga 90 wartawan. Pertanyaannya juga tidak satu. Banyak sekali dan pertanyaannya sulit," kata Presiden Jokowi saat menghadiri HPN 2018.
Maka dari itu, beliau menunjuk salah seorang wartawan senior untuk menggantikan dirinya sebagai Presiden versi HPN.
Yousri Nur Raja Agam, yang ditunjuk Jokowi langsung maju ke depan tampak dengan raut wajah penuh semangat dan gembira.
"Bapak jadi Presiden, saya jadi wartawan. Menteri mana yang bapak anggap paling penting, "tanya Jokowi sebagai wartawan.
Dalam moment tanya jawab antara Presiden dan wartawan, ribuan yang menghadiri HPN tersebut. Sontak tertawa menyaksikan, mendengar sesi tanya jawab Jokowi dan Yousri.
Usai menjadi Presiden dadakan versi HPN, sebagai ucapan terimakasih dan cenderamata, Jokowi memberikan satu unit sepeda kepada Presiden Yousri.
Saat ditemui awak media usai puncak HPN, pria kelahiran bengkalis, 68 tahun silam itu mengungkapkan rasa tak menyangka ditunjuk Jokowi sebagai Presiden dalam HPN 2018.
"Tadi, kan banyak yang nunjuk tangan, tapi kok bisa ya,,, mata beliau mengarah ke saya. Kemudian, saya didaulat pula jadi Presiden dadakan, dan Pak Presiden juga siap jadi wartawan dadakan. Jadi kalau saya jadi Persiden, tentu saya siap menghadapi wartawan, "katanya sembari tersenyum gembira.
Sebagai seorang wartawan senior, pria yang telah bergelut di dunia jurnalistik kurang lebih 40 tahun. Beliau menyikapi HPN 2018, dimana kebebasan pers saat ini sangat luar biasa.
"Siapa saja bisa jadi wartawan, dan bahkan banyak Pemimpin Redaksi dari pada wartawannya. Kebebasan ini tidak terkontrol, "ungkapnya.
Menurut pandangannya, hal tersebut dikarenakan tidak adanya perwakilan dewan pers dari setiap daerah untuk melayani insan pers. Jelas diketahui, Dewan Pers berada di Pusat Jakarta.
"Idealnya, harus ada kaki tangan atau perwakilan, memberikan kuasa di daerah atau kuasa ke organisasi Pers yang ada di daerah. Karena Dewan Pers kan perwakilan media massa. Minimal organisasi Pers di daerah bisa dijadikan kaki tangan Dewan Pers," bebernya.
Selama 40 tahun menjadi wartawan, dirinya menceritakan perbedaan antara wartawan dulu dengan wartawan sekarang. Di mana, wartawan dulu diberikan pendidikan pers sebelum menjadi wartawan.
"Dulu, jadi wartawan melamar. Melamar bukan karena pekerjaan tapi profesi. Kalau sekarang jadi wartawan itu pekerjaan. Bahkan wartawan sekarang, saya lihat dia itu mengetahui kegiatan jurnalistik dengan ortodidak melalui media-media, "ungkapnya.
Menurut Pimpinan Redaksi Ragamnewsdotcom ini, Wartawan sekarang merasa pintar, padahal pengetahuannya hanya sekedar. Dan itupun dari mbah google. "Sekarang itu jadi wartawan untuk dijadikan pekerjaan cari uang saja. Untuk profesinya sendiri bisa ada nilai tawarnya, "bebernya.
Dulu di tahun 70-n, lanjut Yousri menceritakan, dirinya bergabung di organisasi jurnalistik saat masih menjadi mahasiswa di Akademi Tekstil Bandung.
"Setelah tamat kuliah, saya bekerja di perusahaan tekstil di Surabaya. Saat bekerja, saya mendirikan koran buruh di Surabaya, namanaya Berita Raya yang kantor pusatnya berada di Jakarta," kisahnya.
Koran Buruh Berita Raya ini terbit di Jakarta. " Saya perwakilan di Surabaya. Beberapa tahun kemudian, saya pun ditawarkan oleh media di Surabaya untuk jadi wartawannya, "pungkasnya. (aft)
nasional